MAJU TERUS PENYULUH PERTANIAN

Sertifikasi

Pernak Pernik Sertifikasi Profesi Penyuluh Pertanian 2011

Komponen PTT Kedelai

Penerapan PTT Kedelai Meningkatkan produksi dan Pendapatan Petani

Legowo

Tata tanam jajar Legowo Menambah Populasi dan Meningkatkan Produksi

Tampilkan postingan dengan label Humor PPL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor PPL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012

Tak ada roti barang bukti sertifikasipun Jadi

Saat akan mengikuti uji kompetensi di BPP Lampung, saya pergi bersama rekan dari Kabupaten Purwakarta. Rekan dari Purwakarta menawarkan jasa untuk membeli  dua buah tiket pesawat sekaligus, satu untuk dia dan satu untuk saya dengan jadwal penerbangan Pukul 13.30. Karena takut ketinggalan pesawat, saya berangkat dari Bandung  sehabis sembahyang subuh  menuju Purwakarta.  Dari Purwakarta kami berangkat bersama sekitar Pukul 07.00 WIB dengan perhitungan perjalanan agak macet diperkirakan akan sampai di Cengkareng Sekitar pukul 11.30. Di luar dugaan perjalanan ternyata sangat lancar sehingga jam 9.30 kami sudah sampai di Cengkareng.  
Sambil menunggu jadwal keberangkatan kami naik ke tempat istirahat para pengantar penumpang, karena berangkat subuh  dan belum sarapan perut mulai terasa keroncongan. Saat  penjaja makanan lewat saya mengajak teman untuk membeli makanan, namun karena bau pesing sangat menyengat kami batal membeli makanan dan berencana makan di Bandar Lampung setelah landing.
Pukul 12.30 kami boarding pass dan mendapat penjelasan pesawat di delay pukul 2.30. Karena tanggung kami langsung masuk ke ruang tunggu penumpang.Selang beberapa menit tiba-tiba teman saya sibuk mencari  kantung plastik yang dia tenteng yang ternyata tidak ada. Dugaan saya, kantung plastik tersebut  ketinggalan di tempat detektor metal, saya sarankan kepada teman agar dia menunggu pengumuman. Setelah sekian lama menunggu barang teman kami yang ketinggalan tidak juga diumumkan, sedangkan barang-barang orang lain seperti HP dll  berkali-kali dimumkan. 
Penasaran saya bertanya ke teman saya tentang isi kantung plastik yang dia bawa, ternyata isinya hasil olahan pangan (kripik pisang, kripik singkong dll) yang akan digunakan sebagai barang bukti sertifikasi. Sambil tertawa saya berbisik pada teman saya agar menanyakan langsung ke petugas ditektor metal karena mungkin saja petugas malu mengumumkannya. Tanpa basa basi teman saya langsung menuju tempat tersebut dan ternyata kantung plastik tersebut memang berada disana.
Pukul 2.30 pesawat tidak juga berangkat dan kami sudah kelaparan,  mau keluar takut ketinggalan pesawat.  Iseng- iseng saya mengajukan usul kepada teman saya agar bawaannya yang akan digunakan sebagai barang bukti sertifikasi di makan saja. Ternyata teman saya setuju, dan tanpa menunggu lama barang bukti sertifikasi sudah berpindah ke dalam perut kami berdua. Setelah habis teman saya berkata, ”untung saya membawa barang bukti olahan pangan jadi bisa dimanfaatkan untuk mencegah kelaparan, coba kamu cuma bawa modem dan BWD, kalau kelaparan kan gak bisa dimakan”.
Saat uji sertifikasi  akan dimulai, saya diminta pertanggung jawaban untuk mencari olahan pangan yang akan digunakan sebagai barang bukti sertifikasi oleh teman saya, karena barang bukti yang dia bawa habis kami makan.

Minggu, 08 Mei 2011

Korban teknologi


Suatu hari kami diundang  untuk mengikuti pertemuan di salah satu hotel berbintang, saat chek in resepsionis member kami sebuah kartu dengan 3 fungsi yaitu untuk menyalakan listrik penerang saat memasuki lift, kunci kamar, dan alat untuk menghidupkan dan mematikan listrik dalam kamar.
Pagi hari saat kami akan mengikuti pertemuan, baterai handphone teman kami habis. Sebelum keluar kamar dia melakukan pengisian baterai, dengan harapan saat dia selesai pertemuan baterai telah terisi penuh. Dalam hati saya tertawa bagaimana mungkin bisa terisi selama penghuni berada di luar ruangan karena sambungan listrik pasti mati akibat kartu di bawa keluar oleh penghuni.
Karena jadwal sangat sibuk, pertemuan berlangsung sampai sore dan teman kami mulai was-was takut hp-nya rusak karena terlalu lama baterainya diisi. Sambil tak kuat menahan geli saya coba menenangkan bahwa hp-nya pasti aman karena pada charger terdapat  alat otomatis untuk memutus arus listrik.
Selesai mengikuti pertemuan, teman kami bergegas masuk ke dalam kamar, dan !!! betapa kagetnya  dia karena baterai hp-nya tetap dalam kondisi semula dan tetap aktif melakukan pengisian.  Ditengah keheranan dia berkata “ listrik di sini kok aneh ya, berapa tegangannya kok ngisi baterai HP seharian  saja gak penuh penuh”?. Sambil tertawa saya menuju dinding tempat penyimpanan kartu dan mencabut kartu dari tempatnya, tentu saja akibat ulah saya pesawat televisi dan semua peralatan lain mendadak padam.
Sambil mengejar saya, teman saya berkata” jadi sejak awal kamu sudah tahu bahwa pengisian baterai tidak akan berhasil”? , tentu saja saya tahu” jawab saya. Kami semua selanjutnya tertawa terbahak-bahak dan teman saya mengancam agar kejadian tersebut tidak diceritakan di tempat tugas.

Senin, 02 Mei 2011

Surat Tugas berisi uang


Beberapa tahun yang lalu peringatan hari besar Pertanian, Koperasi, dan keluarga berencana dilakukan secara bersamaan dengan tajuk Pertasi Kencana.   Setiap tahun kelompok jabatan fungsional penyuluh pertanian  selalu ditugasi  sebagai panitia. Suatu hari  ketika kami  sedang bekerja, datang seorang stap mengantarkan surat. Setiap orang masing masing memperoleh satu surat  yang dibungkus dengan amplop dinas. Hari itu kebetulan seorang rekan sedang bertugas ke lapangan, jadi yang ada dalam ruangan hanya kami berempat.  Secara serempak kami berempat membuka sampul surat yang ternyata isinya surat tugas sebagai panitia pertasi kencana.  
Tiba tiba muncul ide iseng dari seorang rekan untuk mengerjain rekan yang belum datang. Surat tugas yang telah kami buka dimasukan kembali kedalam amplop dan diisi uang masing-masing Rp 100.000 (kecuali punya teman yang belum datang),  sampul surat kemudian ditutup kembali  seperti belum dibuka.
Saat istirahat sehabis makan siang, saat kami berempat masuk ruangan,  teman kami rupanya sudah pulang dan sedang asyik membaca surat tugas miliknya. Serentak kami semua bertanya pura-pura tidak tahu. Teman kami menjawab bahwa itu surat tugas dan harus segera dibaca karena waktunya mendesak. Tanpa basa-basi kami semua membuka surat tugas dan mengeluarkan isinya di atas meja lalu kami pura-pura membaca.  Melihat surat tugas kami berisi uang, teman kami kaget, dan mencari-cari uang di sampul suratnya. Setelah merasa yakin surat tugasnya tidak dilampiri uang, dia protes kepada kami berempat, dan kami  menyuruh dia untuk mengecek  kebagian kepegawaian barangkali lupa memasukan uang pada amplop surat tugasnya.   Dengan muka kusam teman kami pergi kebagian kepegawaian untuk klarifikasi, karena ruangan cukup dekat pembicaraan antara bagian kepegawaian dengan teman kami semua bias di dengar. Mendengar dialog tersebut kami semua tertawa dan serentak pergi meninggalkan kantor.  Hari berikutnya kami dipanggil oleh bagian kepegawaian untuk dimintai keterangan. Setelah dijelaskan bagian kepegawaian  tertawa terbahak-bahak dan meminta kami untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Selasa, 26 April 2011

Menyembuhkan orang kesurupan


Suatu sore,  saat pulang kerja, saya dikagetkan dengan kerumunan orang dirumah tetangga, dengan rasa penasaran saya bertanya pada tetangga yang kebetulan ada disana. Ternyata istri tetangga saya mengalami kesurupan. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian saya menyempatkan diri menjenguk tetangga tersebut. Ditengah rumah nampak istri tetangga saya sedang diobati oleh seseorang. Sambil berdiri saya mendengarkan berbagai ocehan orang yang kesurupan. Entah dari mana asalnya tiba-tiba saya berkesimpulan bahwa orang tersebut sebenarnya tidak sedang kesurupan, tapi sedang meluapkan emosi yang dipendam. Setelah lama tidak menunjukan kesembuhan akhirnya saya pulang ke rumah.
Selepas sembahyang isya saya kembali menjenguk karena tetangga saya tersebut belum juga sadarkan diri, Saat itu orang yang menjenguk tinggal satu dua orang saja. Tiba-tiba suami pasien menghampiri saya dan memohon agar saya mau membantu menyembuhkan istrinya. Saya terkejut bukan main karena saya tidak memiliki kemampuan apa-apa, namun karena saya berkeyakinan bahwa orang tersebut tidak kesurupan saya menyediakan diri untuk membantu.
Untuk prosesi penyembuhan saya minta agar pasien di pindahkan ke dalam kamar dan meminta agar saya diperkenankan masuk kamar ditemani suaminya. Di dalam kamar saya berdo’a memohon kepada yang maha kuasa agar pasien segera disembuhkan.
Selesai berdo’a suami pasien bertanya pada saya” bagaimana pak?. Saya menjawab dengan suara agak dikeraskan agar terdengar oleh pasien “yang sedang tidak sadar diri”. “ Isteri bapak kemasukan roh jahat dan masuk melalui alat vital”. “Lalu bagaimana cara menyembuhkannya”? kata suaminya. Beberapa saat sengaja saya tidak menjawab seperti orang kebingungan dan akhirnya saya menjawab dengan suara yang tetap agak dikeraskan “ harus diberi mantra,  tapi  jalan masuk roh tersebut harus saya sentuh agar roh jahatnya  cepat keluar, itupun kalau bapak mengijinkan”. Suami pasien tertegun beberapa saat seperti bingung luar biasa,  Saya  lihat dahi sang pasien sedikit berkerut seperti terkejut dengan perkataan saya. Beberapa saat kami saling berdiam diri, setelah sekitar 5 menit suami pasien akhirnya buka suara dan  berkata “ kalau tidak ada cara lain, saya persilahkan bapak melakukannya”.
Mendengar jawaban suaminya saya jadi bingung karena hal tersebut sangat mustahil saya lakukan. Apa yang saya sampaikan semata-mata  karena saya berkeyakinan bahwa  pasien dalam keadaan sadar. Dugaan saya, dia akan segera bangun karena tidak akan rela alat vitalnya disentuh orang lain. Belum sempat bertindak apa-apa tiba-tiba sang pasien bangun dengan serentak dan berkata” dimana saya, kenapa pak mantri (sebutan untuk PPL)  ada di sini”. Secara spontan suami pasien menenangkan istrinya sambil  memeluk istrinya yang baru saja sadar .
Setelah sembuh sayapun cepat-cepat keluar kamar dan berpamitan, karena sudah tidak kuat menahan geli. Dalam hati saya berkata “ ternyata orang tidak sadar diri juga masih punya harga diri”.  Namun demikian saya juga  dibayangi ketakutan, bagaimana jiga ada yang benar-benar kesurupan dan minta pertolongan saya?. Syukurlah sampai saya mutasi tidak ada orang yang minta pertolongan saya untuk disembuhkan dari kesurupan.

Sabtu, 02 April 2011

Komputer canggih

Suatu hari saya diminta bapak Kepala Dinas membuat naskah yang akan disampaikan pada kegiatan seminar, karena waktu sangat mendesak penyelesaian naskah dilakukan dengan kerja lembur. Malam hari ketika kami sedang  asyik mengetik di komputer tanpa diduga Bapak Kepala Dinas menghampiri dan menawarkan diri untuk mendiktekan naskah yang akan diketik. Terang saja kami  menolak  dengan tegas karena apa yang dilakukan Bapak Kepala Dinas tidak lazim, selain itu pengetikan dilakukan tanpa konsep.  Sambil tetap berdiri di samping Bapak Kepala Dinas menyatakan pendapat “ Coba usul ke pembuat Komputer agar dia menciptakan Komputer yang lebih pandai sehingga kerja bisa lebih cepat. Sarankan agar pemasukan data ke Komputer tidak perlu di tik tapi cukup dengan memperluhatkan data ke monitor semua data bisa masuk ( saat itu belum ada scanner)”.  Sambil tetap mengetik saya memberikan tanggapan bahwa ahli computer  malah sudah menciptakan computer lebih dari itu, di Amerika bahkan  sudah diuji coba computer yang mengandalkan suara untuk memasukan data.  Jadi dengan computer tersebut data bias dimasukan dengan cara di dikte. Rupanya Bapak Kepala dinas tertarik dan berkata “ kira-kira kapan computer tersebut beredar di Indonesia?”.  Dengan spontan saya jawab “ sayangnya komputer tersebut tidak jadi diproduksi karena mengalami kegagalan saat dilakukan uji coba”.  Bapak kepala dinas kaget dan bertanya “ emang apanya yang gagal?”.  Dengan santai saya jawab “ saat uji coba sang operator terbatuk-batuk dan otomatis bunyi batuknya masuk sebagai data”. Sambil tertawa terbahak-bahak, Bapak Kepala Dinas menimpali “ iya ya bahaya juga bagaimana kalau operator buang gas saat kerja?”. Sambil menepuk bahu beliau pamit dan berkata” syukurlah kalau masih bisa bercanda sambil kerja, kalau begini saya optimis makalah besok pasti selesai”

Sabtu, 12 Maret 2011

Disangka tukang suntik

Pertama kali bertugas sebagai penyuluh, belum ada ketentuan yang mengharuskan penyuluh pertanian harus mengenakan seragam dinas, setelah itu muncul aturan penyuluh harus menggunakan seragam sperti seragam pramuka.  Sejalan dengan pergantian kepemimpinan daerah, seluruh PNS di Jawa Barat setiap hari Senin diharuskan menggunakan seragam putih-putih. Sebagai abdi Negara tentu saja penyuluhpun diharuskan menggunakan seragam putih-putih.
Seragam putih-putih merupakan tantangan tersediri bagi penyuluh yang harus berjalan dari dusun ke dusun dan dari pematang sawah ke pematang sawah. Hari pertama menggunakan seragam putih-putih, saya bermaksud mengikuti pertemuan di saung tani, untuk mencapai lokasi saya harus berjalan sekitar 3 km melewati beberapa lokasi pemukiman dan pesawahan. Ketika sampai di suatu lokasi pemukiman, dari kejauhan Nampak sekelompok anak-anak sedang asyik bermain. Saat saya sampai ke tempat gerombolan anak tersebut mendadak sontak gerombolan anak tersebut bubar, beberapa diantaranya berlari sambil menjerit-jerit. Selidik punya selidik saya disangka pegawai puskesmas yang akan melakukan vaksinasi cacar sehingga semua anak ketakutan lari terbirit-birit.
Sampai di lokasi pertemuan, anggota kelompoktani yang biasa menyambut saya dengan hangat, kali ini menyambut saya sangat hambar . Saat diskusi  terungkap bahwa mereka tidak setuju penyuluh berseragam putih-putih, dengan seragam seperti itu mereka menjadi enggan untuk minta, menurut mereka  bagaimana mungkin penyuluh dengan seragam putih-putih bisa turun ke sawah. Mereka baru merasa lega ketika saya berjanji bahwa kedepan saya akan membawa pakaian seragam lapangan.
Selesai pertemuan di salah satu kelompok saya berjalan kembali untuk mengikuti pertemuan di kelompoktani lain ( satu hari penyuluh harus mengunjungi 2 kelompok). Sesampai di kelompok saya melihat ke bagian bawah celana saya yang sudah berwarna tidak keruan karena harus berjalan melewati pematang yang masih basah. Hal yang sama kembali terjadi seperti di kelompok sebelumnya.
Ketika mau pulang hujan turun rintik-rintik, namun karena hari sudah sore saya memaksakan diri pulang kerumah dengan berpayung daun pisang. Sesampai di rumah istri saya senyum-senyum sambil melihat pakaian seragam putih-putih yang baru hari itu saya kenakan  tapi sudah tidak keruan warnanya.
Pagi hari ketika mau kerja saya menengok seragam putih-putih yang sedang dijemur, ternyata dibagian baju  terdapat  noda getah daun pisang yang tidak bisa dibersihkan, sedangkan  celana bagian atas berwarna putih, dan bagian bawah berwarna coklat akibat lumpur yang tidak bias dibersihkan. Akhirnya seragam pitih tersebut hanya terpakai satu kali dan esok paginya saya berupaya mencari kembali  seragam putih-putih yang baru.

Rabu, 12 Januari 2011

Indeks Pertanaman 5000


Suatu hari, saya diajak Bapak Kepala Dinas untuk mengikuti panen perdana IP padi 300 di salah satu kabupaten, acara tersebut berlangsung meriah dan mampu membuat peserta terkagum-kagum terhadap keberhasilan program di kabupaten yang bersangkutan.
Dalam perjalanan pulang, pembicaraan di atas kendaraan tidak terlepas dari topik keberhasilan program IP padi 300 dan rencana aplikasi program di kabupaten tempat saya bertugas. Sambil bercanda Bapak Kepala Dinas berkata “ saya mau menguji penyuluh saya, kalau kabupaten lain bisa sukses pada program IP 300 bisa tidak kabupaten kita meniru?”. Dengan spontan saya jawab “IP 300 persoalan kecil, kalau mau kita bisa capai IP 5000”. Bapak Kepala dinas tampak terkejut dan bertanya “ itu hal mustahil, komoditi apa yang akan kamu gunakan?”. Kembali Saya jawab dengan spontan “ kacang hijau pak”. Rupanya Bapak Kepala Dinas belum puas dan memberikan sanggahan “ kacang hijau kan umurnya 60 hari jadi dalam 1 tahun maksimal kita bisa tanam 6 kali jadi IP nya maksimal 600”  Sambil tersenyum saya jawab” betul pak kalau dipanen polong, tapi kalau dipanen kecambah dalam 1 tahun minimal kita bias tanam 50 kali, jadi minimal IP kita bisa 5000”  Di luar dugaan Bapak Kepala Dinas terbahak-bahak sampai menitikan air  mata dan berkata “ saya bangga punya penyuluh seperti anda”

Selasa, 26 Oktober 2010

Lalap dan Cemara

Pada kegiatan pameran pembangunan, saya mendapat tugas sebagai peramu wicara di stand instansi tempat saya bekerja. Selain menampilkan berbagai komoditas unggulan di stand  tersebut juga dipamerkan aneka bunga anggrek yang dekorasi dengan menggunakan daun cemara.  Ditengah kesibukan memberikan penjelasan kepada pengunjung, tiba tiba sekelompok gadis berserakam SMU masuk stand dan menghampiri bunga anggrek  yang dipamerkan. Sambil sedikit cemas takut tidak bisa menjawab dengan baik, saya  mendekati rombongan tersebut barangkali ada yang perlu dijelaskan.
Tiba-tiba salah seorang anggota rombongan mengajukan pertanyaan, saya agak terkejut dengan pertanyaan yang justru di luar di luar dugaan. Sambil memegang daun cemara dia bertanya “ Pak kalau ini bisa dimakan untuk lalap”?. Dengan spontan saya jawab bisa.  Ternyata jawaban saya membuat bengong si penanya dengan keheranan dia mengajukan pertanyaan lanjutan “ ah yang bener pak?”. Sambil senyum saya jawab “ betul bisa, cuma bedanya daun cemara jika dilalap rasanya tidak enak”. Si penanya ngeloyor pergi, tapi dari kejauhan saya lihat dia senyum-senyum sendiri sambil sesekali menoleh ke arah saya 

Kamis, 21 Oktober 2010

Harendong sebagai obat KB


Dalam rangka pengembangan komoditas unggulan, instansi tempat saya kerja menjalin kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi dengan kegiatan utama pengkajian komoditas unggulan. Suatu hari datang  rombongan dari perguruan tinggi yang  akan melakukan kunjungan lapangan, sebagai pelaksana teknis saya berkewajiban untuk mendampingi rombongan ke lapangan. Salah seorang wanita anggota rombongan selain menekuni bidangnya ternyata sedang  rajin-rajinnya mempelajari berbagai tanaman yang dapat digunakan sebagai ramuan tradisonal. Setiap menemukan tanaman berkhasiat obat dia meminta saya untuk mengambil sampel. Sampai di suatu tempat beliau melihat benalu yang tumbuh pada tanaman jengkol, lalu dia meminta saya untuk memanjat pohon jengkol yang lumayan tinggi. Sambil mendongkol, saya  memanjat untuk mengambil benalu dan menyerahkannya kepada beliau.
Saat akan pulang saya melihat tanaman harendong dan berkata bahwa tanaman harendong berkhasiat sebagai obat KB. Sang dosen tercengan karena dia belum menemukan referensi tentang tanaman harendong sebagai obat KB. Karena penasaran dia bertanya kepada saya “ pak bagai mana cara menggunakan tanaman harendong untuk obat KB”? . Dengan serius saya jelaskan “ “ ambil sepuluh lembar daun harendong, lalu remas dan dipintal sampai membentuk bola”  Penjelasan saya hentikan sampai di situ. Rupanya penjelasan saya kurang memuaskan dan dia minta penjelasan lanjutan “setelah membentuk bola selanjutnya bagai mana pak?. Sambil senyum saya jawab “ tinggal disumbatin aja bu”. Sepontan seluruh rombongan tergelak-gelak dan baru sadar bahwa saya hanya bercanda. Tanpa diduga pimpinan rombongan berkomentar “ ibu sih, penyuluh di lawan”

Sabtu, 25 September 2010

Alah bisa karena biasa


Suatu hari, rombongan dari kantor melakukan studi banding. Karena ingin santai  rombongan kami menyewa sebuah penginapan dan menginap di sana.  Kami datang sore hari, malamnya diisi hiburan. Pagi hari saat kami kami akan melakukan kunjungan lapangan  seorang teman terlambat berkumpul, setelah dipanggil-panggil melalui pengeras suara, teman kami tetap tidak datang. Karena takut kesiangan seorang teman berinisiatif menyusul ke kamar tempat teman saya menginap.
Beberapa saat kemudian teman kami kembali sambil senyum-senyum dan member tahu bahwa kamar teman kami menginap kebanjiran dari kamar mandi. Usut punya usut ternyata teman kami belum terbiasa menggunakan kloset duduk sehingga sewaktu mau BAB  dia menaiki  kloset.  Karena  tubuhnya cukup besar klosetnya hancur berantakan dan kran air yang ke kloset tidak bisa dimatikan sehingga membanjiri kamar.

Tanaman GERTEM


Ceritanya kami diminta menata gedung tim penggerak PKK Kabupaten dengan menggunakan berbagai tanaman, ketika sedang asyik berja tiba-tiba datang Ibu Sekretaris Daerah melihat-lihat tanaman yang sedang ditanam. Tanpa diduga Ibu Sekda menanyakan salah satu jenis tanaman yang akan ditanam kepada salah seorang teman
Bu Sekda; Kalau ini tanaman apa?
Teman  : (tertegun sejenak) oh ini GERTEM bu !!
Buk Sekda tampak puas dengan jawaban teman saya dan tersenyum .
Setelah menjawab teman saya segera menjauh dan kami saling pandang karena kebingungan  dengan jawaban teman kami. Sampai di kantor kami  menanyakan jenis tanaman GERTEM kepada teman yang tadi ditanya bu Sekda. Setahu kami tidak ada tanaman bernama GERTEM. Sambil tertawa  teman kami menjawab “ saya tidak tahu, tapi dari pada saya ketahuan bodoh, lebih baik saya jawab GERTEM”.  Kami Tanya lagi memang ada tanaman GERTEM?. Sambil ngakak dia jawab “ya ada lah itu kan paGER TEMbok”.  Serentak kami tertawa sambil geleng-geleng kepala dengan jawaban teman yang sekenanya tanpa memperhitungkan risiko

Rabu, 22 September 2010

Disangka tak berdinding


Alkisah kami besrama beberapa penyuluh diundang untuk mengikuti pertemuan di salah satu hotel. Ruang pertemuan bertempat  di lantai II, kebetulan dinding ruangan di bagian pintu masuk semua terbuat dari kaca.  
Pagi hari ketika kami sedang melakukan pertemuan, kami dikejutkan oleh suara berderak di bagian pintu masuk. Spontan peserta pertemuan menoleh kebelakang karena posisi peserta membelakangi pintu masuk. Betapa kami terkejut karena dinding kaca dekat pintu masuk pecah dan seorang penyuluh terkapar dekat reruntuhan kaca. Selidik punya selidik,  salah seorang teman  terlambat mengikuti pertemuan. Dia menyangka ruangan pertemuan merupakan ruang terbuka tanpa dinding, karena tergesa-gesa berniat   masuk, tanpa sadar  dia masuk  menabrak dinding kaca hingga hancur berkeping-keping. Akhirnya dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan. sambil senyum ditahan kami kembali melanjutkan pertemuan, tiba tiba teman di sebelah berbisik "maklum penyuluh biasa di sawah tanpa dinding"

Senin, 20 September 2010

Ternyata ingin melihat lebih jelas !!!

Pertama bertugas di Kabupaten Sukabumi saya ditugaskan di daerah Palabuhan Ratu (saat itu belum menjadi ibukota kabupaten). Sebagai orang yang tidak dilahirkan di daerah pantai, sehabis melapor dari kepala BPP bersama seorang teman saya jalan-jalan di pantai, kebetulan tempat saya main berada didepan Kantor Balai Desa.
Sedang asyik ngobrol di warung pinggir pantai, dari kejauhan terlihat berjalan sepasang turis tanpa busana. Sampai di warung sang turis berhenti karena mau minum kelapa muda. Si empunya warung kebingungan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Karena kasihan saya turun tangan menggantikan tugas yang punya warung melayani sang turis yang minta kelapa muda sekalian dikupasin. Sambil berjongkok saya mengupas kelapa yang diminta, tentu saja dengan konsentrasi yang buyar karena  persis dihadapan saya berdiri seorang wanita tanpa busana dengan jarak sekitar 1 meter.  Sambil mengupas kelapa saya bergumam lirih pada temat dan bertanya “sabut mana yang harus saya kupas (sabut kelapa asli atau yang seperti sabut he he)?”
Setelah selesai sang turis pergi, kami semua tertawa terbahak-bahak. Tiba tiba dari arah balai desa keluar salah seorang perangkat desa dan mempertanyakan kenapa kami tertawa. Ketika diceritakan ada turis tanpa busana sang perangkat desa berang dan berkata “ kenapa tidak ditegur, itu kan tidak sesuai dengan budaya kita, mana dia sekarang?. Spontan kami menunjukan turis yang kebetulan belum jauh berjalan. 
Dengan cepat sang perangkat desa berjalan menyusul turis untuk menegur, diikuti  pandangan kamu dari kejauhan. Dan !!!!! Kami semua terperanjat karena setelah berhasil melewati turis, sang perangkat desa bukannya menegur namun balik kanan sambil berjalan mundur berhadapan dengan turis. Kiranya sang perangkat desa bukan mau menegur, tapi mau lebih jelas melihat tubuh tanpa busana sang turist

Sabtu, 18 September 2010

No HP saya digunakan orang lain


Masih seputar pengguna telepon. Saat itu yang namanya Handphone  masih jarang dan hanya beberapa kalangan yang  sanggup membeli .  Selepas azan magrib seorang gadis memasuki ruangan telepon Wartel yang saya kelola.  Hampir 15 menit si pengguna telepon berada dalam ruangan dan berkali-kali mesin pencetak resi berbunyi. Saya lihat nominal biaya tagihan cukup besar, takut  ada klaim akibat kerusakan alat saya datang menghampiri pengguna telepon dan bertanya barangkali ada kesulitan. Selidik punya selidik dia peralatan tidak ada masalah tapi  sedang belajar menggunakan HP yang baru dibelinya. Si gadis memijit nomor hp nya sendiri untuk belajar cara menggunakan HP. Dia mencoba dengan menggunakan dua cara yaitu saat HP dihidupkan dan saat HP dimatikan. Saat HP dihidupkan dia ngomong sendiri melalui telepon kabel dan HP yang dia pegang, sedangkan saat HP dimatikan dia mendengarkan jawaban dari telepon kabel. 
Dia mengeluh karena nomor hp  yang baru dibelinya telah digunakan orang lain dan meminta saya untuk membuktikannya. Dengan senang hati saya mencoba membantu dan menghubungi no hp yang dia pegang, dalam kondisi HP dihidupkan  semua berjalan tanpa masalah. Kemudian dia meminta saya untuk menghubungi no hp yang dia pegang tapi dalam kondisi hp dimatikan, saat itu dari hand set telepun terdengar jawaban WELCOME TO TELKOMSEL VERONICA.  Lalu dia berkata “ benar kan pak no HP saya telah dipakai sama si VERONICA? “ saya bingung pak bisa-bisa pulsa saya habis dipakai sama SI VERONICA”
Dalam hati saya tetawa dan ingin memberitahu bahwa itu hal yang biasa, namun sebagai penyuluh saya tetap berupaya agar tidak menyinggung perasaan. Sambil senyum saya mencoba meyakinkan bahwa kartu yang baru dibeli  biasanya belum disetting khusus  sesuai nama pengguna, namun demikian  dijamin tidak akan mengganggu pulsa milik pengguna. Dia merasa lega dengan jawaban saya dan sangat berterima. Seminggu kemudian dia datang lagi untuk menelepon, tapi kali ini dia datang sambil senyum-senyum. Rupanya dia  sudah tahu bahwa SI VERONICA bukan pemilik kartu tapi merupakan layanan dari telkomsel. Sambil senyum dan membungkuk dia minta izin untuk menggunakan telepon dan berkata “ mohon ijin pak  saya mau menelepon si Veronika !!!

Menelepon menggunakan kode pos


Dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga yang terus meningkat, saya bersama keluarga membuka usaha warung telekomunikasi yang ditempatkan di depan rumah. Suatu hari datang seorang konsumen berusia paruh baya memasuki ruang telepon. Setelah hampir setengah jam penelepon berada di ruangan telepon kami mulai bertanya Tanya karena  mesin pencetak resi tetap tidak berbunyi . Hal tersebut  merupakan pertanda  bahwa penelepon tidak berhasil melakukan komunikasi. Beberapa saat kemudian penelepon keluar sambil kebingungan. 
Dengan tujuan membantu saya menghampiri dan menanyakan barang kali ada yang bisa saya bantu.  Di tengah kebingungan  Bapak tersebut minta bantuan agar saya mau mencoba menelepon sambil . untuk memudahkan saya menelepon bapak tersebut memberikan kartu nama dan menunjukan nomor telepon yang harus dihubungi. 
Dalam hati saya berkata, “pantas saja tidak nyambung karena nomor  yang dia pijit bukan nomor telepon tapi kode pos yang tertera di kartu nama”. Karena terbiasa menjadi penyuluh yang tidak suka menyalahkan langsung  saya  membantu menelepon dengan memijit nomor telepon yang juga ada di kartu nama, setelah nyambung  baru telepon saya berikan.
Sambil menunggu si penelepon saya berfikir bagai mana cara member tahu tanpa menyinggung perasaan (maklum penyuluh). Setelah selesai membayar tagihan sambil memberikan resi pembayaran saya berpesan agar lain kali  apabila mau menelpon menggunakan nomor yang ada di resi,  bukan yang ada di kartu nama.
Karena merasa sudah selesai membantu  saya masuk kembali ke rumah. Si Bapak kelihatannya penasaran dan mencoba membandingkan nomor yang ada di resi dengan ada di kartu nama, rupanya dia baru sadar  bahwa  dia salah memijit nomor. Sambil berjalan pulang, dia  menoleh berkali-kali ke dalam rumah dan senyum senyum sendiri menyadari kesalahannya. 

Rabu, 25 Agustus 2010

Pokonya sensus

Sebagai seorang penyuluh tentu saja  keakraban  dengan kepala desa menjadi salah satu penentu keberhasilan penyuluh. Suatu hari di musim kampanye (PEMILU), saya bertemu  dengan kepala desa  tempat saya bertugas di jalan yang bersebrangan. Untuk menunjukan keakraban saya berteriak “ gimana khabarnya pa kades?. Tak kalah nyaring pa kades berteriak” TENANG SAJA PAK MANTRI POKONYA  SENSUSSSSS!!!!!. . Saya kebingungan tidak  paham teriakan  pak kades, karena saya menanyakan khabar beliau, malah dijawab SENSUS.
Hari demi hari berlalu, saya belum menemukan jawaban maksud teriakan beliu, hingga suatu hari ketika saya berdialog dengan pak Kades, beliu kembali menggunakan kata SENSUS untuk keberhasilan yang diraih. Saat itu saya baru paham yang dimaksud beliu bukan SENSUS tetapi SUKSES. Jadi teriakan beliau saat itu seharusnya  ” TENANG SAJA PAK MANTRI POKONYA  SUKSESSSSS!!!!!

Jumat, 20 Agustus 2010

Lain padang lain belalang

Pertama bekerja di Sukabumi saya berkunjung ke rumah salah seorang kontak tani. Setelah berkenalan kami asyik terlibat dalam pembicaraan tentang kegiatan kelompoktani. Tak terasa waktu sudah tengah hari dan  saya berpamitan. 
Tanpa di duga Pak kontak tani sudah menyiapkan jamuan  makan siang. Tentu saja saya kegirangan karena perut sudah keroncongan, namun saya sempat bingung dengan ajakan pak kontak tani  karena sewaktu dia mengajak saya makan dia berkata “ NENG MANTRI URANG NGAWADANG HEULA !!!.
Saya bingung siapa yang diajak makan pak kontak tani dengan panggilan NENG MANTRI, yang jelas diruangan tersebut hanya saya berdua dengan Bapak Kontak Tani. Dalam kebingungan tak urung saya mengangguk mengiyakan ajakan beliau makan bersama. 
Setelah pulang saya cerita kepada  teman yang telah lama bekerja di sana, membahas  ajakan pak kontak tani. Usut punya usut  ternyata  ENENG, merupakan panggilan kehormatan di daerah tersebut terhadap orang yang dihormati, sedangkan di daerah saya panggilan NENG digunakan untuk memanggil seorang perempuan.